Oleh: AGUS ABU, S.H., M.H., M.Si.
Nusantaranews.co.id // Makassar 3 Oktober 2026
I. FAKTA SEJARAH — GURU YANG PERNAH MEMIMPIN
Selama 31 tahun masa Orde Baru, Golkar adalah guru politik bangsa. Ketua Dewan Pembina Golkar adalah Jenderal Soeharto — satu-satunya Presiden yang dipilih rakyat secara berulang selama lebih dari tiga dekade. Golkar memenangkan setiap Pemilu, menjadi tiang penyangga pemerintahan, dan menentukan arah kebijakan negara.
Saat itu, partai lain hanyalah pengikut. Golkar menetapkan, dan yang lain mengikuti.
II. TITIK BALIK — REFORMASI 1998 MENGUBAH SEGALANYA
Jatuhnya Soeharto pada Mei 1998 membalikkan panggung politik. Golkar melepaskan kekuasaan yang dipegang puluhan tahun. Sejak saat itu, peran “guru” perlahan berganti menjadi “murid”:
– Sejak Pemilu 1999 hingga Pemilu 2024 — Golkar tidak pernah lagi menjadi partai pemenang Pemilu Legislatif
– Selalu berada di peringkat kedua atau ketiga, tidak pernah kembali ke posisi teratas
– Tidak pernah lagi mengusung kader sendiri sebagai calon Presiden maupun Wakil Presiden yang terpilih
– Setiap pemimpin tertinggi negara sejak Reformasi — dari Habibie, Megawati, SBY, Jokowi, hingga Prabowo — lahir dari partai lain. Golkar hanya ikut mendukung, bukan yang mencetak
III. ANOMALI: SELALU DI KABINET, TIDAK PERNAH MEMEGANG KEMUDI
Fakta paling menarik: Golkar senantiasa mendapat tempat di setiap kabinet pemerintahan pasca-Reformasi. Namun duduk di meja kekuasaan tidak sama dengan memegang kendali. Golkar masuk sebagai mitra pendukung, bukan pemimpin arah kebijakan.
Partai yang dulu mengajarkan cara berkuasa, kini belajar mengikuti arah tokoh dari partai lain. Itulah makna “guru menjadi murid” — masih ada di ruang kelas, tapi tidak lagi yang berdiri di depan.
IV. TANTANGAN PEMILU 2029: AKAN DIKETAHUI SIAPA YANG DITINGGALKAN
Jika pada Pemilu 2029 Golkar kembali tidak mengusung kadernya sendiri sebagai calon Presiden atau Wakil Presiden, maka peringatan ini menjadi kenyataan:
Golkar bukan sekadar kalah suara — tapi perlahan ditinggalkan rakyat.
Alasannya sederhana:
– Rakyat mencari pemimpin, bukan penumpang. Tanpa sosok yang diusung secara tegas, Golkar tidak punya wajah masa depan
– Pemilih muda — yang mayoritas di Pemilu 2029 — tidak melihat sosok Golkar di barisan terdepan
– Terus-menerus mengikuti tokoh dari partai lain membuat rakyat bertanya: “Untuk apa Golkar berdiri?”
– Tanpa kejelasan arah sendiri, Golkar makin sulit dibedakan dari partai-partai lain yang juga sekadar ikut masuk kabinet
V. KESIMPULAN: KEMBALI MENGAJAR ATAU TERUS BELAJAR
Sejarah membuktikan Golkar adalah kekuatan yang tangguh. Tapi tangguh bukan berarti dipilih. Pemilu 2029 adalah batas penentu:
Apakah Golkar berani menampilkan kadernya sendiri sebagai calon pemimpin bangsa — sehingga kembali berdiri di barisan terdepan dan rakyat melihatnya sebagai guru yang kembali mengajar?
Atau puas terus duduk di belakang tokoh lain — sehingga perlahan rakyat menyimpulkan: Golkar memang dulu guru, tapi kini murid yang tidak pernah lulus menjadi pemimpin.
Jawabannya tidak ditentukan oleh sejarah 31 tahun lalu. Jawabannya ditentukan oleh keputusan hari ini.







